Guru Garuda: Terobosan ABT Learning & Disdik Palangka Raya dalam Digitalisasi Kompetensi Guru

Feb 12 / ABT Learning Team

Palangka Raya, Desember 2025 – Transformasi pendidikan tidak melulu soal mengganti papan tulis dengan layar proyektor. Transformasi sesungguhnya terjadi ketika metode pengajaran dan pola pikir pemimpin sekolah berubah menjadi lebih adaptif dan berbasis data.


Inilah semangat yang dibawa dalam program "Guru Garuda", sebuah kolaborasi strategis antara ABT Learning dan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

Sebanyak 300 peserta (terdiri dari 150 Kepala Sekolah dan 150 Guru SD/SMP) ditantang untuk keluar dari zona nyaman mereka. Bukan dengan seminar duduk diam seharian, melainkan melalui metode Blended Learning yang menggabungkan fleksibilitas teknologi LMS dan kekuatan interaksi tatap muka.

Hasilnya? Bukan sekadar sertifikat, tapi lonjakan kompetensi yang nyata.

Mengapa Blended Learning?

Tantangan utama pelatihan konvensional adalah waktu yang habis untuk teori. Peserta seringkali pulang dengan kepala penuh materi tapi bingung cara praktiknya.

Di program Guru Garuda, kami membalik skema tersebut.

  • Fase 1 (Asinkronus): Peserta belajar mandiri via Learning Management System (LMS) ABT Learning. Materi teori, pre-test, video pembelajaran, hingga kuis diselesaikan secara daring (10–21 November 2025).
  • Fase 2 (Sinkronus): Pertemuan tatap muka di Aurilla Hotel (24 November – 9 Desember 2025) yang 100% didedikasikan untuk praktik, simulasi, dan bedah kasus.

Dengan metode ini, waktu tatap muka menjadi jauh lebih efektif. Tidak ada lagi ceramah satu arah; yang ada adalah diskusi solusi konkret untuk sekolah masing-masing.

Data Berbicara: Lonjakan Kompetensi yang Signifikan

Keberhasilan sebuah pelatihan harus bisa diukur. Berdasarkan data dari LMS ABT Learning, antusiasme dan hasil belajar peserta sangat luar biasa:

  • Tingkat Partisipasi Tinggi: Dari target awal, 98% peserta aktif mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran asinkronus.
  • Lulus Target Kompetensi: Rata-rata skor post-test peserta melonjak ke angka 96,20%, jauh melampaui target awal sebesar 75%.
  • Peningkatan Kognitif: Terjadi kenaikan pengetahuan (kognitif) sebesar +21,19% secara relatif dibandingkan sebelum pelatihan.


Ini membuktikan bahwa guru dan kepala sekolah di Palangka Raya sangat siap beradaptasi dengan teknologi jika diberikan platform yang tepat dan user-friendly.

Output Nyata: Bukan Sekadar Teori

Fokus utama pelatihan ini dibagi menjadi dua track spesifik:
  1. Kepala Sekolah (Kepemimpinan Berbasis Data): Menghasilkan dokumen Rencana Kerja Sekolah (RKS) yang strategis. Hasilnya, 96% dokumen RKS yang disusun peserta dinilai "Sesuai Standar", dengan 68% di antaranya masuk kategori "Sangat Baik".
  2. Guru (Pembelajaran Berbasis Proyek/PjBL): Merancang modul ajar yang inovatif. Menariknya, 52% guru memilih merancang proyek berbasis Sains, menunjukkan semangat untuk meningkatkan literasi sains siswa.

Apa Kata Data Kepuasan?

Program ini ditutup dengan tingkat kepuasan peserta di angka 4.74 (dari skala 5). Angka ini bukan cuma statistik, tapi representasi dari pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.

"Model pelatihan ini membuat kami lebih siap. Di LMS kami paham teorinya, di kelas kami langsung praktik bikin proyek. Jadi pulang ke sekolah langsung bisa diterapkan."

Membangun Masa Depan Pendidikan, Sekarang

Program Guru Garuda di Palangka Raya adalah bukti bahwa dengan metode yang tepat, peningkatan kualitas SDM pendidikan bisa dilakukan secara massal, terukur, dan berdampak.

ABT Learning bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan transformasi ini. Kami siap mereplikasi keberhasilan ini untuk instansi dan daerah lain di Indonesia.

Ingin menerapkan pelatihan berbasis LMS atau Blended Learning di instansi Anda? Hubungi Tim ABT Learning untuk diskusi lebih lanjut.